Riwayat (2)

Sampai sekitar tahun 70an, cucu2nya hanya sering menyebut bahwa kakeknya adalah Demang Katjung.   Saya waktu itu penasaran karena nenek (mbah) Dalfah sebagai anaknya masih ada dan saya menanyakan nama sebenarnya.  Demang Katjung itu siapa? Mbah´Dalfah bilang namanya Tjakradipura (per-mas). Katanya, ayahnya itu (Mas Tjakradipura)  sebagai demang  ( lurah/carik ) di daerah Lebak ( Banten Selatan ).  Masa muda/kecilnya tidak banyak diketahui oleh keturunannya, waktu itupun saya salah tidak banyak menggali riwayat beliau. Baru sekitar tahun 80an salah satu cucunya (Mas Hulman), beliau bercerita bahwa kakeknya beserta kedua putranya Anwar (Dudut) & Gaos (Atje) pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, dan setelah itu beliau merubah namanya Haji Mochammad Ali.  Dan diceritakan juga bahwa  adik dari Demang Katjung yaitu Nyi Rahimah menikah dengan Mantri Liman, yang meninggal pada pemberontakan di Peristiwa ( Geger ) Cilegon.

Demang Katjung (Mas Tjakradipura) beristri banyak, dan yang diketahui ada 4 orang, istri pertama namanya tidak diketahui, dengan beliau berputra 2, Mas Achjar dan Mas Burhan. Burhan menikah tapi tidak mempunyai keturunan, Achyar berputra tunggal bernama Mas Usbandi Sutaatmadja atau dikenal bernama Ubang. Yang kedua juga tidak tahu namanya, beputra dua Mas Anwar dan Mas Moch. Gaos. Anwar menikah dengan R. Komala tapi tidak mempunyai anak. Moch. Gaos beristri 5 kali, hanya dengan istri pertama mempunyai 2 orang putra Mas Moch Endjen (Endeng Ageung) dan Mas Moch. Rafiudin (Endeng Alit). Ke-3 menikah dengan Ramlah (Nyi Bunder) seorang juru masak. Dengannya berputra tunggal Mas Arsjad yang setelah jadi haji dikenal dengan panggilan Haji Mpek. Arsjad menikah 5 kali tapi istri  ke-2,3 & 5 yang punya keturunan. Dengan Raudoh berputra tunggal Mas Hulman, dengan Aisah berputri tunggal Nyi Mas Adjah, dan dengan istri ke-5 Ratu Siti Hadidjah mempunyai 6 putri dan 2 putra, Nyi Mas Sufiah, Nyi Mas Halimah, Nyi Mas Amenah, Mas Moch. Sibli, Nyi Mas Rafiah, Nyi Mas Djunariah, Nyi Mas Asiah & Mas Syamsudin. Istri yang terakhir Tjakradipura bernama Nyi Fatimah, mempunyai 2 orang putri Nyi Mas Siti Khabsah dan Nyi Mas Djohanah Dalfah. Siti Khabsah (nama panggilannya Nok Gede) bersuami 2 kali, pertama dengan R. Sudarna Prawirasudirdja putra pertama R. Prawiranata, mempunyai 3 putra & 1 putri,  R. Suparto (Toto),  R. Supardi (Didi),  R. Suparti (Otih) dan  R. Sutardjo (Udjo), dan dengan Aminulloh (dari Padang) 1 putri yaitu Hadidjah atau lebih dikenal dengan panggilan Babay. Djohanah Dalfah (nama panggilannya Nok Leutik) menikah dengan adik ipar kakaknya yang bungsu R. Djaenoedin (adik dari R. Sudarna P.)   mempunyai 3 putra & 3 putri,    R. Sungkono (Uko),   R. Sungkawati (Uwit),   R. Sularjo (Dedo),   R. Suparman (Tatek),   R. Sulastri ( Neneng/wafat umur 6 tahun ) dan yang bungsu R. Sumiati (Inien).

.H. Mas Tjakradipura wafat di Serang dan dimakamkan di Pemakaman Buah Gede – SERANG. Disini pula terdapat makam istrinya Nyi Bunder (Ramlah) & salah satu mantunya Raudoh. Makam istri terakhir Hj. Nyi Fatimah (dikenal Nyi Haji Fatimah) terdapat di belakang Mesjid Agung Ar-Rahman – PANDEGLANG.

( dari berbagai sumber dan diriwayatkan kembali oleh Johnny Suyudi bin R. Uko Sungkono )

.

.

.

Diriwayatkan kembali oleh: Johnny  Suyudi

H. Mas Arsjad adalah putra tunggal dari pasangan H. Mas Tjakradipura atau lebih banyak dikenal dengan nama DEMANG KATJUNG dengan istri Ramlah (Nyi Bunder).

Haji Mpek adalah nama panggilan disekitar tempat tinggalnya dan kerabat dekat. Semasa mudanya berdagang kebutuhan dapur di Pasar, tetapi setelah ayahnya pergi naik haji dengan saudaranya (kakak lain ibu), maka ia bertekad ingin pergi juga menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Setelah tabungannya memungkinkan dan mencukupi, barang-barang dagangan dijual semuanya untuk biaya ke Tanah Suci dan juga untuk keperluan keluarga yang ditinggalkan. Sebagai bekal tambahan selama dalam perjalanan, ia membantu orang lain sesama berangkat haji sebagai juru masak.

Setelah menjadi haji dan kembali ke Tanah Air, beliau melamar menjadi pegawai pengairan (PU sekarang). Walaupun membacanya tidak begitu lancar, untuk memperlancarkannya ia belajar sendiri sambil bekerja. Karena ketekunannya dan sebagai pegawai yang dapat dipercaya, akhirnya diangkat sebagai Hoofd Mandoor (Pengawas).

Begitu tragis, beliau wafat (+/-thn 1947an) karena fitnah dari orang lain. Di Makamkan di Tempat Pemakaman Umum PEJATEN-SERANG.      Di Pemakaman ini pula dimakamkan diantaranya istrinya yang terakhir Ratu Siti Hadidjah, anaknya Hj. Sufiah dan suami, Hj. Amenah dan suami, cucunya Solichin, Fathonah.                              (nara-sumber H. Mas Hulman)

  1. Saya mempunyai riwayat yang berbeda dengan yang di atas, khususnya mengenai Mas Usbandi Sutaatmadja tetapi ini juga masih perlu verifikasi lebih dulu.

    Sebelum lebih lanjut mengenai tokoh ini, saya ceritakan dulu bagaimana saya sampai ke sini. Saya sedang berusaha memindahkan catatan silsilah keluarga ke media online agar generasi selanjutnya tidak “pareum obor” dan tidak usah repot mencari-cari catatan tertulis dari orang-orang tua yang belum tentu sempat memperbaruinya setiap kali ada kelahiran anggota baru. Ada dua sumber yang saya gunakan. Keduanya saling melengkapi tetapi juga di beberapa bagian saling bertentangan. Untuk klarifikasi, saya berusaha mencar sumber lain yang dapat menjelaskan perbedaan tersebut. Salah satunya adalah cabang di mana nama Sutaatmadja terkait.

    Saya coba cari dengan google semua nama yang ada di cabang itu tetapi baru nama “Sutaatmaja” yang kelihatannya memberikan titik terang. Di media online memang nama ini terkait dengan satu nama yang ada di cabang lain keluarga kami. Saya belum dapat kontak dengan keturunan beliau. Mudah-mudahan dengan perantaraan website ini kita dapat saling berhubungan.

    Kembali ke riwayat Usbandi/Husbandi Sutaatmadja yang mana sumber saya menyebutkan nama depan yang berbeda tetapi mirip. Mas Sutaatmadja ini, kalau memang identik dengan tokoh yang ada di sumber saya, bukan anak tunggal tetapi lima bersaudara. Sumber saya tidak menyebutkan siapa ayah beliau. Yang jelas persamaannya adalah beliau mempunyai putra sepuluh orang dengan urutan dan nama yang sedikit berbeda dengan silsilah yang ada di website ini. Beliau mempunyai dua orang istri yang salah satunya mirip atau identik dengan salah satu nama di cabang keluarga kami yang lain yaitu Nyi Ayu Eki Rosyaeki. Yang jelas berbeda justru adalah ibu beliau yang di website ini bernama Rt Nurnas. Hal ini juga yang menjadi perbedaan dalam kedua sumber saya.

    Sumber pertama tidak menyebutkan nama beliau maupun ibu beliau sama sekali. Sumber kedua, yang sepertinya lebih up to date, menyebutkan bahwa ibu beliau beserta anak-anaknya adalah salah satu cabang keluarga kami. Selain itu, sumber ini juga menyebutkan beliau mempunyai dua orang istri yang salah satunya adalah anggota cabang keluarga kami yang lain. Sayangnya tidak jelas menyebutkan hubungan ibu-ibu dari kesepuluh orang anaknya. Saya berharap agar keturunan beliau dapat meluruskan perbedaan ini.

    Demikian yang dapat saya sampaikan di sini. Sengaja tidak saya sebutkan nama-nama dari sumber saya agar di kemudian hari tidak terjadi masalah dengan keturunan yang bersangkutan jika memang nama Sutaatmadja yang di website ini bukan Sutaatmadja yang ada pada sumber saya. Mohon maaf kepada keturunan Mas Sutaatmadja di sini sekiranya apa yang saya informasikan tidak berkenan di hati.

    Sekiranya memang kita tidak ada hubungan darah melalui Sutaatmaja ini, kita tetap bersaudara dan bersilaturahim mungkin dari cabang yang lain. Perlu diketahui, dari sumber yang ada, bahwa para sesepuh kami adalah orang-orang biasa yang berasal dari empat jalur dan pada umumnya tinggal di Banten selatan mulai abad 16. Hubungan keluarganya tidak linier seperti bapak, anak, cucu dan seterusnya, melainkan saling kait mengait di antara empat jalur ini. Ketika pemerintah kolonial Belanda masuk ke sana pada permulaan abad 19, banyak dari Raden, Mas, Agus dan Tubagus yang masuk menjadi anggota keluarga. Lebih-lebih lagi pada awal abad 20 ketika banyak dari keluarga-keluarga mulai merantau ke daerah lain dan menikah dengan berbagai bangsa, salah satunya adalah saya sendiri. Nanti kalau sudah lengkap susunan silsilah keluarga kami di media internet, silahkan cari anggota keluarga lainnya yang terkait dengan keluarga kami. Untuk para orang-orang tua kami yang berasal dari penduduk asli, saya sisipkan nama Entol/Ki dan Ayu/Nyi pada awal nama mereka dan ditambah dengan gelar profesi/sosial seperti Kiai/Panghulu/Demang/Lurah/Haji, bukan untuk membanggakan diri tetapi hanya sebatas identitas saja agar para keturunannya mudah mencari. Untuk keluarga yang berasal dari daerah lain, yang sudah ada, saya sisipkan nama Rd/Tb/Mas/Agus dan Nyi Rd/Rt/Mas Ayu/Agus Ayu di awal nama mereka. Sedangkan untuk nama-nama keturunan periode berikutnya, saya tuliskan nama yang sesuai dengan keinginan masing-masing.

    Semoga hal ini bermanfaat.

  2. iskandar zulkarnain

    saya cucu dari Nyi Ayu Amemi binti Entol Achyar, saya lahir dan dibesarkan di Lampung. Mohon diberikan informasi ttg silsilah kami supaya tidak ‘pareum obor’. Trima kasih

  3. Tb.H.rustam effendi gaos.dgn nama bpk.tb.ahmad gaos berasal dr padeglang dan syahiang banten skrg tinggal diragunan pasar minggu lihat situs raisa dea salsa untuk keturunan sy

  4. Ibunda ny mas ayu ninik rukmingsih telah meninggal dunia pada tanggal 25 oktober 2012 di ciamis dan dikebumikan di makam keluarga kawali,ciamis. Dan ayahanda h.ishak suryadi juga telah meninggal dunia pada tanggal 13 mei 2012. punya putera 7 orang
    1.Hj.Susy Suryaningsih – H.Drs Umar Rusdi (jakarta)
    2.Rudi rusyandi – Nonok (ciamis)
    3.H.Koswara – Siti Agam Srilely S.H (polisi brimob,Bogor)
    4.H.Dedi Kusmana S.Pd – Iis Hermayati S.H(ciamis)
    5.Rukamana – Ir. RA Iksiarni Js Koesoemodilogo (Alm) (ciamis)
    6.Ade Tarman – Eni Herliani (ciamis)
    7.Didi Suparman S.H – Elis Nurjanah S.Pd (ciamis)

  5. Tubagus Malming Nurcahyo Martanegara

    Salam Persaudaraan
    Saya sedang mencari asal usul agar tidak pareum obor dan berniat memperluas silaturahmi, apakah ada yang dapat membantu ?

    Saya putra dari Tb. Achyar Syarifudin putra dari Tb. Amir Martadipura putra dari Tb Rafiudin Sutadipura putra dari ……
    Menurut info
    Tb Rafiudin Menikah dengan Rt Ariah (Putri dari Tb. Buang Kadujuru) dan memiliki putra Tb Amir Martadipura, kemudian entah apa yang terjadi, Rt Ariah menikah lagi dengan salah satu putra Kyai Caringin sehingga kakek Tb. Amir Martadipura besar dan diasuh di Caringin. hanya itu info awal yang saya dapat jika ada info terkait mohon dapat di share ke malming_martanegara@yahoo.co.uk
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: