Tambora Challange

Achmad Iman SudradjadDalam rangka memperingati 200 tahun meletusnya dengan dasyat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Untuk itu Achmad Iman Sudradjad (menantu dari R. Supardi b Sudarna Prawirasudirdja b R. Prawiranata / suami dari Indarti Achmad) dari DI Jogjakarta , mengikuti Tambora Challange dengan menantang sambil menikmati keindahan pulau NTB dan Gunung Tambora pada tanggal 6 – 11 April 2015.

Jogjakarta DIAcara ini diisi dengan   ‘Tambora Bike’,   yaitu sebuah petualangan bersepeda menyusuri Nusa Tenggara Barat, sejauh 408 km. Petualangan ini dimulai dari Mataram, Pelabuhan Kayangan, Utan, Pidang, dan berakhir di Doro Ncanga di kaki Gunung Tambora. Ajang bersepeda ke Gunung Tambora yang paling diminati oleh para pesepeda Indonesia bahkan dunia untuk memperingati letusan gunung berapi yang getarannya terasa hingga Benua Eropa itu. “Kita ingin memperkenalkan Sumbawa melalui sepeda maupun Gunung Tambora ke dunia Internasional,” ujar Ketua Panitia Tambora Bike, Jannes Eudes Wawa di Jakarta (Kompas, 9/2/2015). Tambora Bike dibagi dalam tiga etape. Pesepeda akan mulai dari Kota Mataram dan berakhir di Pancasila, salah satu kaki Gunung Tambora di Kabupaten Dompu. Panas terik matahari, bahkan malam hari menginap di tenda, nyaris tidak dipedulikan 102 pesepeda dari sejumlah kota. Mereka telah satukan tekad dan semangat, dari Kota Mataram menuju Doro Ncanga, Nusa Tenggara Barat. Achmad I. Sudradjad dalam satu kesempatan berkomentar: “Ngowes selama 5 hari minta apun panasnya apa lagi setelah menyebrang ke P. Sumbawa dr P. Lombok, teman2 bilang punya 2 matahari sangking panasnya, dan kalau sudah jam 4 sore pantat rasanya puanas banget…….kalo didudukin terus perih banget………..”.

Achmad Iman Sudradjad

Peserta Tambora Bike dilepas dari Taman Sangkareang, Mataram, Nusa Tenggra Barat, Kamis (9/4). Etape pertama Mataram menuju Desa Utan, Sumbawa sejauh 160 kilometer. Kompas/Lucky Pransiska (UKI) 09-04-2015 *** Local Caption *** Peserta Tambora Bike dilepas dari Taman Sangkareang, Mataram, Nusa Tenggra Barat, Kamis (9/4). Etape pertama Mataram menuju Desa Utan, Sumbawa sejauh 160 kilometer. Kompas/Lucky Pransiska (UKI) 09-04-2015

wisata jogjakartaAda hubungan antara Gunung Tambora dan sepeda, Mick Hamer mengungkapkan dalam tulisannya berjudul ”Brimstone and Bicycles” pada majalah New Scientistedisi 29 Januari 2005 (http://www.newscientist.com/ article/mg18524841.900) Bahwa pada tanggal 5 April 1815 pertama kali Gunung Tambora meletus. Sepekan berikutnya, gunung ini memuntahkan isi perutnya lebih kurang 150 miliar meter kubik sehingga menjadi erupsi yang terbesar selama era modern. Sekitar 91.000 orang tewas. Tiga kerajaan di kaki gunung terkena dampak: Sangat porak poranda, sedangkan Kerajaan Tambora dan Pekat hilang tanpa bekas. Suhu udara di seluruh dunia turun rata-rata 3 derajat celsius. Di Eropa, pada 1816 disebut tahun tanpa musim panas. Saat itu, kuda-kuda di Eropa pun mati karena kehabisan makanan. Kondisi itu seakan memaksa Karl Drais, pemuda Jerman berusia 32 tahun, menemukan sarana transportasi pengganti kuda. Dia membuat alat sederhana terbuat dari kayu diberi roda dua, tetapi belum memiliki pedal yang diberi nama draisine. Satu-satunya cara mengendarai ”sepeda” itu adalah dengan menjejakkan kaki ke tanah agardraisine meluncur. Karl Drais memulai sejarah baru bepergian tanpa kuda dengan mengendarai sepedanya pada 12 Juni 1817 sejauh 7,5 kilometer di Mannheim-Schwetzingen, Jerman. Letusan Tambora 200 tahun silam telah memberikan inspirasi lahirnya sepeda. (Kompas, April 2015)

komunitas bikers yogyakartaDewita TriyonoWalau berkesan sangat melelahkan, biarlah cerita ini menjadi sebuah kisah heroik di masa depan, yang tak pernah terkikis waktu dan takkan pudar di telan usia sepanjang massa. (Brother John’S)

DI JogjakartaKomunitas Sepeda JogjakartaTambora ChallengeSumbawa - NTB

–o–

%d blogger menyukai ini: