Pengabdian

Dari- BPPH ke- LPH sampai- LPPH

.

Setelah Indonesia berhasil merebut kemerdekaannya, maka Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Kemakmuran pada bulan Desember 1945, mengangkat / menunjuk Drh. R. Djaenoedin sebagai orang Indonesia pertama yang memperoleh kehormatan dan kepercayaan sebagai pimpinan Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH).

Perlu diketahui bahwa dalam masa pendudukan Jepang dan masa perang kemerdekaan, ternak yang diimpor pada masa sebelum perang, praktis telah habis karena dipotong oleh tentara Jepang dan sisanya dimusnahkan.

Pada masa perang kemerdekaan ini terbina pula kerjasama yang erat antara BPPH dan Sekolah Dokter Hewan yang waktu itu diketuai oleh Dr. J.F. Muhede. Sekolah Dokter Hewan ini kemudian ditingkatkan kedudukannya oleh Pemerintah, menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (PTKH) pada tanggal 20 September 1946 dengan Surat Keputusan No.1280/a.Per.  Sebagai Guru Besar Luar Biasa yang pertama pada PTKH ini diangkat Drh. R. Djaenoedin yang bersamaan waktunya menjabat sebagai Direktur BPPH.

Pada tanggal 27 Juli 1947, Belanda melalui Pemerintahan Militernya (N I C A) menyita BPPH dan sebagai direkturnya diangkat Dr.E. de Boer.  Sedangkan Drh. R. Djaenoedin yang tidak bersedia bekerjasama dengan pihak Belanda, digeser dari kedudukannya sebagai Direktur BPPH. Setelah tercapai persetujuan pengembalian kedaulatan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS), Drh. R. Djaenoedin  kemudian dikukuhkan kembali sebagai Direktur BPPH pada tanggal 1 April  1950 dengan SK. Menteri Kemakmuran No.1132/UP/P. tertanggal 25 Maret 1950. Sementara itu, Dr. E. De Boer dipekerjakan sebagai penasehat sampai tanggal 10 Desember 1950.

Meskipun dalam suasana perang, Balai mampu melaksanakan berbagai kegiatan penelitian selama 1947 s/d 1950. Sedikitnya 60 artikel karya ilmiah mengenai berbagai penyakit hewan telah dipublikasikan baik oleh peneliti Belanda maupun Indonesia. Balai mengalami beberapa kali pergantian nama dan susunan keorganisasian. Dimulai dengan Lembaga Penyakit Hewan (LPH) pada tahun 1950 dan Lembaga Pusat Penyakit Hewan (LPPH) pada tahun 1955. LPPH mengalami kemajuan yang pesat. Kerjasama dengan luar negeri mulai dirintis dimana Balai mulai mendapatkan perhatian dari Food and Agriculture Organization (FAO) untuk kemungkinan memperoleh bantuan Marshall Plan, tetapi pelaksanaannya belum tercapai. Sementara itu tenaga-tenaga Indonesia mulai dikirim ke luar negeri diantaranya Belanda, Inggris dan Canada untuk menambah pengetahuannya melalui berbagai badan bantuan asing seperti British Council atau Colombo Plan. Pegawai yang cakap diberi penghargaan yang sepadan, pembuatan vaksin, membangun gedung baru yang cukup memadai untuk menampung peralatan dan mesin-mesin yang besar, meningkatkan kesejahteraan pegawai dengan pengadaan tunjangan keahlian bagi petugas profesional, Perpustakaan yang memiliki koleksi literatur yang cukup sebagai rujukan ilmu veteriner di Indonesia.

Berdasarkan SK Presiden RI No.296/M tahun 1959 tertanggal 8 Oktober 1959, Direktur LPPH    Prof. Drh.R. Djaenoedin diberhentikan dengan hormat karena telah mencapai masa pensiun. Namun demikian, beliau tetap bersedia menyumbangkan tenaga dan pikirannya selama satu tahun kemudian.

(Nara-sumber: Buku 100 tahun (1908-2008)  BBALITVET)

.

.

PROF. DRH. R. DJAENOEDIN  dan pengabdiannya

Hampir seluruh dedikasi hidupnya Prof. Drh. Djaenoedin dicurahkan kepada ilmu kedokteran hewan dengan cara pendidikan, penelitian dan penyuluhan untuk mempertinggi pengetahuan mencegah penyakit hewan dan menyempurnakan kesuburan peternakan.  Dalam hal ini hasil karyanya ditulis dan dimuat didalam majalah “  Nederlands-Indische Bladen voor Diergeneeskunde ”.

Pada tahun 1949 nama madjalah itu diganti menjadi `Hemera Zoa´, dengan dewan redaksinya diketuai oleh Drh. R. Djaenoedin sendiri. Essay ilmiah itu meliputi masalah-masalah yang melingkupi penyakit-2 kuda, babi, kerbau, kambing, ayam, manusia dsb. Prestasi karya Drh. Djaenoedin itu telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa asing, majalah-2 terbitan luar-negeri dan memperoleh penghargaan international.

Karya-karyanya adalah  hasil laporan selama menjadi asisten Prof. DR. Kraneveld, dimana kesempatan studi dan praktek secara empiris sangat luas. Risalah pertama yang ditulis yaitu „De witte bloedlichahaammpjes van de karbouw“. Setelah ini tidak kurang dari 82 buah karangan ilmiahnya dimuat dalam majalah ilmu tersebut diatas sejak tahun 1928 sampai 1960.

Dijaman penjajahan Jepang di Indonesia Veeartsenijkundig Instituut (Lembaga Kedokteran Hewan) dipegang oleh tenaga-2 Jepang. Namanya diganti menjadi Balai Penyelidikan Penyakit Hewan. Setelah kapitulasi Jepang BPPH diteruskan oleh Pemerintahan RI dan Drh. Djaenoedin diangkat menjadi kepalanya. Nama balai itu kemudian diubah menjadi Lembaga Pusat Penyakit Hewan.

Semasa aksi polisionil Belanda tahun 1947, BPPH diserbu NICA dan didudukinya. Tapi Drh. Djaenoedin berhasil menuntutnya kembali. dan BPPH serta sebagian labotariumnya dapat dipindahkan ke Klaten, kemudian diserahkan kepada Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta.

Pada bulan Maret 1946 Pemerintahan RI membentuk Panitia Pendirian Sekolah Dokter Hewan Tinggi, dimana Drh. Djaenoedin sebagai anggotanya. Berdasarkan SK Menteri Kemakmuran RI No. 1280/a/Per Tgl. 20 Sep. 1946 didirikan Perguruan Tinggi Kedoteran Hewan (PTKH), oleh Pemerintah RI Drh. J.F. Mohede ditunjuk sebagai ketuanya.          Sementara Drh. Djaenoedin diangkat sebagai guru-besar (luar biasa). Jadi disamping menjadi Kepala BPPH masa itu Drh. Djaenoedin juga menjadi Profesor yang pertama pada perguruan tinggi tersebut.

Menjelang akhir tahun 1956, Pemerintah mengizinkan untuk mulai membangun sebuah gedung baru, sebagai tambahan dari Lembaga Virologi. Gedung baru ini cukup memadai bisa menampung peralatan dan mesin-2 besar untuk mengering-bekukan vaksin antara lain vaksin ND dan vaksin Rabies. Pada tanggal 26 Juli 1958 gedung tersebut diresmikan penggunaannya oleh Prof. Drh. R. Djaenoedin pada saat memperingati 50 tahun berdirinya LPPH. Pidato jubilium 50 tahun lembaga tersebut terdapat di Majalah Hemera Zoa tahun 1958 edisi 65.

Jika Lembaga Penyakit Hewan dapat terus berdiri dan menjadi milik bangsa Indonesia sampai sekarang, antara lain adalah berkat keikhlasan Drh. Djaenoedin dalam memupuk dan membimbing tenaga-tenaga ahli muda yang diharapkan bisa meneruskan dan mempertahankan berdirinya Lembaga tersebut.

(Diambil dari Majalah Intisari Oktober 1967, Seratus Tahun (1908-2008) Bbalitvet Bogor, Kumpulan Karangan Ilmiah dari LPPH dan Sejarah Dokter Hewan dari website FKH-UGM)

.

.

“Dengan serbuan tentara Jepang pada tanggal 1 Maret 1942 di Bandung dan Cirebon, maka pada tanggal 6 Maret 1942 mereka telah sampai di Bogor.    Dan memasuki zaman pendudukan Jepang nama ´Veeartsenijkundig Instituut´ segera di Indonesiakan menjadi Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH),   yang kemudian diubah menjadi Lembaga Penyakit Hewan (LPH). Karena dianggap lebih cocok dengan martabatnya sebagai pusat penyelidikan ilmiah tentang penyakit hewan yang terdapat diseluruh Indonesia, nama tersebut diperindah lagi menjadi Lembaga Pusat Penyakit Hewan (LPPH).”

Demikian kata-kata yang diucapkan almarhum Prof. Drh. R. Djaenoedin orang pertama bangsa Indonesia menjadi Direktur Balai, dalam Pidato Peringatan Jubileum 50 tahun LPPH di Bogor, namun sekarang  bernama Bbalitvet.

About brother johns

Khusus untuk keluarga dan kerabat Tjakradipura@Prawiranata, umumnya untuk anda sekalian..!

Posted on Maret 31, 2010, in prawiranata, Sejarah, tjakradipura and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: